Gue inget banget waktu scrolling IG sambil rebahan, muncul reels tentang orang yang lagi sailing trip di Labuan Bajo. Background-nya Pulau Padar, langitnya biru banget, dan caption-nya simpel: “Take me back.” Dan dari situ, tiba-tiba gue ngerasa: gue juga pengen take a break!
Besoknya langsung buka laptop, search sana-sini, dan ketemulah Loka Trip. Bukan cuma karena websitenya enak diliat, tapi karena pendekatan mereka tuh nggak cuma “jualan trip” doang. Mereka kayak ngajak kita beneran menyatu sama tempatnya.
Awal Petualangan: Lombok, Si Tenang yang Ngangenin
Lombok jadi destinasi pertama. Gue kira awalnya bakal mirip-mirip Bali. Tapi ternyata, beda banget. Vibenya tuh lebih kalem, lebih sepi tapi justru itu daya tariknya. Pantai-pantainya masih alami banget. Dari Tanjung Aan sampai Gili Nanggu, semua punya karakter sendiri.
Salah satu pengalaman paling berkesan waktu diajak ke desa tenun Sukarara. Lo bisa lihat langsung ibu-ibu menenun, dan mereka ngajarin kita juga. Tangan gue kaku banget, tapi rasanya kayak balik ke akar, ke budaya asli yang hidup banget.
Lanjut ke Bali, Tapi yang Gak Mainstream
Bali sih udah gak perlu dijelasin. Tapi yang bikin beda adalah cara nikmatinnya. Kali ini gue gak nginap di tengah keramaian. Ubud jadi basecamp gue. Tiap pagi disambut sama suara burung dan aroma tanah basah dari sawah.
Gue sempet ikut kelas memasak lokal bareng warga setempat, dan surprisingly, itu jadi salah satu highlight dari trip ini. Sambil masak, sambil ngobrol tentang kehidupan mereka yang penuh kesederhanaan tapi kaya makna. Belum lagi sesi meditasi di tengah hutan bambu—jujur aja, baru kali itu gue beneran ngerasa “hadir”.
Salah satu hal yang bikin gue makin nyaman, tentu karena semuanya udah diatur rapi. Mulai dari akomodasi, guide lokal yang friendly banget, sampai rekomendasi tempat-tempat hidden gem yang gak pasaran. Dan buat kamu yang pengen nikmatin pengalaman serupa, bisa cek Paket Tour Bali dari Loka Trip. Gak cuma ke tempat wisata biasa, tapi juga diajak menyelami sisi Bali yang lebih personal dan penuh cerita.
Setelah itu, itinerary gue lanjut ke Tirta Empul buat blessing ritual. Ini bukan aktivitas mainstream yang biasa dilakuin turis, tapi somehow, itu bikin gue merasa lebih ringan, secara emosional. Kadang perjalanan yang bagus tuh bukan soal tempatnya, tapi apa yang lo rasain selama di sana.
Puncaknya: Labuan Bajo, Rumah Si Naga dan Laut Biru
Hari terakhir sebelum pulang, gue sailing trip ke Komodo. Duh, ini sih bukan liburan, ini pelarian kecil dari kenyataan. Tidur di kapal, bangun pagi-pagi liat laut tenang, terus tracking di Pulau Padar dengan sunrise yang pelan-pelan muncul dari balik bukit. Gak ada kata lain selain “takjub”.
Ketemu Komodo langsung? Deg-degan sih, tapi seru banget. Dan yang paling nyantol di hati gue itu makan malam di atas dek sambil dengerin suara laut. Hening tapi hangat. Kayak lo punya ruang buat merenung, tapi gak ngerasa sendirian.
Kenyamanan yang Gak Terlihat, Tapi Terasa
Kalau lo tipe traveler yang suka bebas tapi tetap pengen segalanya tertata, trip bareng Loka Trip tuh pas banget. Mereka gak maksa-maksa itinerary harus penuh, tapi juga gak asal lepas kita jalan sendiri. Kombinasi ideal antara fleksibel dan terarah.
Dan yang paling gue suka? Rasa aman dan nyaman selama perjalanan. Semua udah di-handle dengan profesional, tapi tetap terasa personal. Gak kaku, malah lebih berasa kayak diajak jalan sama teman lama yang udah kenal sama tempat-tempat yang lo kunjungi.
Gak Sekadar Liburan, Tapi Perjalanan yang Berarti
Tiap tempat punya energi sendiri. Lombok yang damai, Bali yang spiritual, dan Labuan Bajo yang magis. Tapi yang bikin perjalanan ini istimewa adalah caranya Loka Trip ngemas semuanya jadi satu alur yang nyambung. Lo gak cuma pindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tapi lo diajak merasakan tiap tempatnya.
Dan jujur aja, setelah semua ini, gue jadi makin sadar pentingnya support ke bisnis lokal kayak Loka Trip yang beneran ngerti makna liburan. Bukan cuma soal foto-foto bagus, tapi tentang menciptakan kenangan yang bertahan lebih lama dari sekadar feed IG.